Introduction

January 28, 2010 2 comments

Nama saya Ramadhani

Blog yang satu ini saya buat untuk membantu teman-teman dalam mencari bahan mengenai marketing. Semoga dengan adanya blog ini dapat membantu yah. Saya merasakan betul bagaimana susahnya mencari inspirasi, bahan, gambar atau apapun itu yang dapat membantu saya menyelesaikan tugas yang diberikan. Walaupun ini bukanlah media pertama yang membahas mengenai marketing, mudah-mudahan dapat memberikan warna dan tambahan informasi bagi teman-teman.

Tentunya saya akan senang sekali apabila teman-teman mau berbagi pendapat, tulisan, atau komentar mengenai blog ini, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan marketing. Dengan senang hati saya mempersilahkan teman-teman untuk mengirimkan tulisan, gambar, video ke email saya: johngudil@gmail.com. Tulisan teman-teman  akan saya muat di blog ini agar kita semua dapat saling berbagi satu sama lain.

Categories: What is This?

You’re Target Market: The Urban Societies

March 12, 2010 Leave a comment

Judul ini saya buat biar tulisan saya lebih fokus. Seperti janji saya sebelumnya kita bakal lebih dalam membahas cara mempraktekkan marketing politik. Tetapi kita batasin aja dulu pembahasannya, lebih kepada political figures bukan institution. Kan udah pada rame-rame mau Pilkada nih, cocok kan (^_^). Selain itu kita fokus dulu deh pada masyarakat perkotaan, nanti tulisan saya yang berikutnya lebih banyak membahas masyarakat pedesaan.

Nah, melanjutkan tulisan saya sebelumnya, “what is the Place element in Political Marketing?” Jawabannya adalah bagaimana cara sebuah partai/individu hadir dan berbaur ke dalam semua lapisan masyarakat. Kampanye politik ini memang harus dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan hal itu hanya bisa dilakukan melalui segmentasi publik.

Kok di segmentasi? Memang kita harus pilih-pilih ya? Di dalam konteks marketing yang umum, kita memang melakukan ini kok. Bukannya tebang pilih, tetapi memang harus ada kantong suara yang difokuskan, dan perlu untuk didekati dengan cara yang berbeda-beda. Ini sangat penting dilakukan agar sumber daya yang kita miliki tidak terkuras.

Seperti contoh, kalau di dalam suatu lingkungan masyarakat kelas bawah, atau lingkungan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, maka kita harus dapat mengambil hati atau kepercayaan kiai / sesepuh di daerah tersebut. Makanya anda bisa bayangkan bagaimana powerful-nya Gus Dur sebagai seorang politikus, dia bilang apa ya warganya bakal nurut.

Tetapi cara ini ga mempan loh di perkotaan, ini sudah saya buktikan dengan penelitian yang pernah saya lakukan sebelumnya. Masyarakatnya well-educated, they can think on their own. Pasang poster tempel sana-sini, ngomong sampe berbusa di depan TV juga mereka juga belum tentu memilih anda. Gimana nggak, namanya juga iklan “janji2nya manis”. Sebagus apapun iklan, itu hanya akan menaikkan awareness, bukan intention to vote. Ujung-ujungnya mereka akan liat dari berita tentang track record, lalu mencernanya, digabung dengan collective memory form their past, lalu memutuskan apakah akan memilih anda, atau mungkin tidak akan memilih karena bingung.

First Lesson, you need a credibility to be chosen by this people. Credibility can only be built by your track record. If you don’t have it, don’t try to make it up. Credibility can only be build not just as a cover up.


Kenapa saya bilang credibility can only be build? Karena sekarang ini orang-orang banyak sekali yang terlalu pede untuk mencalonkan diri. Berbekal bujukan orang di sekitarnya, tidak sedikit seorang calon maju dalam pemilihan hanya dikarenakan kemampuan dari sektor finansial. Dengan dukungan dana berlimpah melakukan kampanye gila2an, beberapa sampe gila beneran (ingat kasus calon bupati Tuban?!). Berbekal program dengan poster keren, warna-warni, dengan slogan2 keren, Sang Calon sudah manggut2 senang waktu ditunjukkin sama konsultan politiknya, “Ituloh pak, nama, poster dan slogan bapak dapat ditemui di seluruh sudut kota dari segala penjuru, bapak pasti menang! Basis massa sudah dikerahkan! Kami juga sudah lobi orang-orang di Jakarta, bla, bla, bla…..

Masalahnya apa yang akan anda kampanyekan? Figur anda? Jika anda tidak memiliki track record yang bagus dan cukup relevan, apakah orang akan mempercayai perkataan anda? Mari kita luruskan, kredibilitas, track record, itu semua membutuhkan proses yang panjang, karena itu proses perjalanan hidup anda. Jika anda mencoba mengklaim sesuatu yang anda bukan, jaman sekarang ini hal seperti itu dapat dengan mudah terbongkar.

Kesimpulannya? Bersabar saja, dan pelan-pelan bangun kredibilitas anda.

Second Lesson, make yourself heard. People needs to know you before they choose you!! But please be wise to chose your channel  communication.

Ada contoh bagus dalam pilpres yang lalu saat mencuat beberapa tokoh yang “tidak terlalu dikenal sebelumnya” memborbardir massa dengan setting iklan yang menarik, 2 tokoh yang saya temukan sangat menonjol menggunakan cara ini. Yang pertama adalah pengusaha dari Pekalongan dari partai berwarna biru dengan slogan “hidup adalah perbuatan” (sampai saat ini saya masih tidak mengerti arah komunikasi dari slogan ini) dan yang kedua adalah calon independen lulusan Ilmu Politik dari Negeri Paman Sam.

Keduanya menggunakan cara yang hampir sama, menggunakan iklan dari televisi untuk membangun awareness. Hasilnya? Nol, tingkat elektabilitas kurang dari 5% (belakangan saya baru tahu bahwa pencalonan tokoh kedua hanyalah merupakan bagian dari riset Tim Sukses Kampanye Presiden RI tersayang kita).

Mengapa mereka gagal? Padahal Iklan televisi memang adalah media paling efektif untuk menjangkau masyarakat, mengingat sifatnya yang broad. Ini adalah apa yang saya sebut sebagai perangkap dalam marketing politik. Mereka cenderung melakukan aktivitas yang sama seperti saat memasarkan kosmetik, sabun, ataupun shampo. Padahal perilaku masyarakat dalam merespon iklan politik tidak sama dengan cara mereka merespon iklan biasa (dalam bahasa teori ini sering dikaitkan dengan karakteristik high-involvement & low-involvement product).

Dalam penelitian yang pernah saya lakukan sebelumnya, iklan politik tidak terbukti efektif membentuk citra seseorang. Iklan itu memang ok untuk awareness, tapi tidak untuk brand building. Rata-rata orang yang memiliki tingkat elektibilitas tinggi dikarenakan mereka sudah terkenal terlebih dahulu. Karena jabatan ataupun profesinya, mereka telah dikenal luas oleh para pemilih. Karena itu pada saat mereka mengeluarkan iklan tv, itu hanya sekedar trigger. Sikap masyarakat terhadap seorang calon sudah lama tersimpan sebelum tokoh tersebut muncul di iklan politik.

Kesimpulannya? Kembangkan network, libatkan diri dalam masyarakat, jalin hubungan dengan teman2 pers, bloggers & komunitas-komunitas. Gunakan media tetapi bukan iklan, melainkan publikasi. Publikasi media bersifat lebih netral dan terpercaya karena muncul dari pemberitaan pihak ketiga, sumber paling kredibel untuk memperkenalkan anda pada masyarakat dan ikut membangun kredibilitas anda di mata masyarakat. Nah, jika hal ini benar-benar dilakukan maka akan sejalan dengan kesimpulan pertama saya. Bersabar saja, perlahan bangun awareness terhadap anda.

Third Lesson, introduce yourself in public in a relevant way.


Poin ketiga merupakan ujung dari dua poin yang lain, dimana di dalam marketing  istilah yang digunakan disebut positioning. Secara sederhana positioning dapat ditanyakan sebagai “bagaimana kamu ingin orang mempersepsikan dirimu?”, sama pada saat anda mencoba untuk tampil baik di depan calon mertua maka anda akan datang dengan baju koko dan peci agar mereka mempersepsikan anda sebagai pria baik-baik dan agamis (^_^), coba anda perhatikan baliho cabup, cawali ataupun caleg yang berkeliaran saat ini).

Nah, di dalam political marketing hal seperti ini harus direncanakan dengan baik. Tidak hanya dalam batasan bagaimana cara tampil di depan kamera, baju apa yang harus dipakai dan hal-hal detail yang lebih bersifat polesan ataupun branding semu. Kenapa saya sebut branding semu, karena branding semu adalah suatu usaha dalam melakukan pencitraan terhadap publik mengenai sesuatu yang kita bukan sehingga itu hanya menjadi semacam kepura-puraan.

Saya tidak bilang itu tidak perlu untuk dilakukan, tetapi itu saja tidaklah cukup untuk membentuk pencitraan anda. Pada saat saya mengatakan positioning, maka anda harus tahu terlebih dahulu karakter apa yang anda miliki, kelebihan apa yang anda punya dan hal-hal apa saja yang menjadi isu utama perhatian anda. Dari situ anda dapat merumuskan positioning anda, apakah anda seorang kiai yang pluralis dan moderat, pengusaha yang bersih & inovatif, birokrat yang cerdas & jujur ataupun seorang ex-militer yang nasionalis dan pro kerakyatan. Jika masyarakat tidak memiliki persepsi yang jelas mengenai siapa diri anda maka anda memiliki masalah “unclear positioning” dan jika anda tidak dianggap pantas menjadi seorang pemimpin maka anda memiliki masalah “irrelevant positioning”.

Terdengar gawat. Lalu bagaimana cara kita menghindari itu semua? Pertama anda harus konsisten dengan positioning anda. Menyuarakan kepedulian terhadap suatu isu yang sama dan muncul di dalam kegiatan dengan topik sejenis, lakukan secara kontinyu dari waktu ke waktu agar posisi anda menjadi “clear” di mata masyarakat. Kedua, gabungkan ini dengan posisi, jabatan anda ataupun keahlian anda agar “nyambung”, sehingga orang tidak akan mempertanyakan kompetensi anda dalam bidang tersebut. Saat anda dapat merangkai ini semua dengan track record anda maka tidak akan ada seorang pun yang akan mempertanyakan komitmen maupun kompetensi anda, karena sejak lama “track record” anda sudah menunjukkan kepedulian terhadap bidang tersebut.

Kesimpulan dari semuanya? Poin pertama menjelaskan bahwa untuk memenangkan seorang tokoh politik dalam suatu pemilihan, kredibilitas merupakan modal utama yang harus mereka miliki. Untuk itu strategi komunikasi harus dibangun dengan cara yang tepat, hal ini ditekankan pada poin kedua bahwa proses tersebut harus dibangun sejak awal dan tidak dapat dilakukan secara instan. Poin ketiga memperkuat kedua poin sebelumnya, bahwa untuk melakukan itu semua maka diperlukan suatu usaha yang konsisten dan relevan sehingga didapatkan positioning yang jelas dan brand image yang kuat dari seorang tokoh yang memang dikenal luas oleh masyarakatnya.

Menurut saya tiga faktor ini merupakan faktor utama dalam memenangkan suatu pemilihan umum dalam suatu urban society di Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang berhasil dalam pemilihan umum melakukan tiga poin utama ini, disadari ataupun tidak, walaupun itu semua mereka lakukan tanpa sengaja.

Apakah mereka yang tidak memiliki ketiga faktor ini mampu memenangkan suatu pemilihan? Ohh… tentu saja bisa, karena probabilitas tidak pernah sama dengan nol. Banyak juga kok tokoh masyarakat yang terpilih karena faktor lain. Tetapi selama kondisi politik bergeser kepada kekuatan publik (bukan uang), maka tiga hal ini akan menjadi suatu yang wajib dan generik di masa mendatang. Kapankah itu? Hanya Tuhan yang tahu.

Bagaimana pendapat anda? ^_^

Sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_12CL7DF53gY/ShdloeF8oRI/AAAAAAAABFE/uuSTRlXcMe4/s400/segmentation-graphic.jpg

http://1.bp.blogspot.com/_UtxovsBsS1M/SxiFcmMM5RI/AAAAAAAAAEc/AAeZRixUuJM/s320/pinokio.jpg

http://khibran.files.wordpress.com/2009/02/hidup-adalah.jpg

http://www.textually.org/textually/archives/images/set3/network.jpg

http://qvmedia.com.vn/fileupload/Image/Marketing%20mui%20ten%20tien.jpg

http://assets.sheetmusicplus.com/product/Look-Inside/covers/1306865.jpg

Who is the Truly Asia by Coca-cola

March 1, 2010 1 comment

Part I

Beberapa negara di Asia berupaya keras mendefinisikan negara mereka sebagai Truly Asia (Asia sebenarnya), Kalau mau lihat Asia, silahkan datang ke negara saya, tak perlu disebutkan lah negara mana saja. Permasalahannya adalah, yang mereka lakukan adalah melakukan klaim sepihak….!!!!, membuat slogan-slogan, berbagai promosi yang menyatakan bahwa mereka adalah Asia yang sebenarnya. Apakah hal tersebut salah? ngga juga sih, lah apa salahnya kalau memang negara-nya benar-benar melambangkan image “Asia”?.

Apa sih image Asia? Kalau saya mendengar kata Asia, maka yang saya bayangkan adalah kebudayaan. Yes…, kebudayaan lah yang menjadi ciri khas dari bangsa Asia, dan kebudayaan lah yang sering ditonjolkan sebuah negara dalam beriklan mengenai Asia.

Next, Mari kita coba pahami beberapa hal yuk,

Brand, what is a brand? apa yang bisa di branding?

Produk

Service

Kalau kita lihat UU kita tentang merek sih itu aja kali ya? apa saya yang salah?

bagaimana dengan orang?

atau Negara

Yess…..!!!, 2 hal terakhir adalah Brand juga, pembahasan lebih lanjut next artikel aja yah, hehehe…..

Yang terkait dengan paragraf awal, Negara adalah Brand juga, sesuatu yang harus dikelola secara terus menerus,  sesuatu yang mempunyai image, sesuatu yang mempunyai nilai. Kemudian, apabila Negara adalah sebuah Brand, bagaimana kita me-marketing-kan negara tersebut?,sori ni bos, next artikel lagi jawabannya. Kenapa? yang lebih ingin saya bahas disini adalah bagaimana image dari sebuah negara tersebut dapat terbentuk.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan:

it’s better if you see me through others“, atau “Let them speak for me”

Contoh ya:

Saya membayangkan bahwa saya akan dinilai sebagai orang yang baik apabila banyak orang mengatakan bahwa “eh dia tu orangnya baik buuaaaanget lo”, bukan dengan saya berteriak-teriak kepada semua orang “Hei……, saya orang baik lo….!!!!.”

Part II

Siapa yang tidak kenal global brand Coca-cola?, Komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Coca-cola selama ini adalah berusaha menampilkan emotional benefit kepada konsumen, dibandingkan menonjolkan functional benefit nya. Pada tulisan saya sebelumnya, telah saya sebutkan bahwa Coca-cola melakukan kampanye yang saya sebut sebagai “Think global, act local”. Garis besarnya: “Open Happiness”, kemudian setiap negara menterjemahkan Open Happiness tersebut.

Bagaimana menterjemahkannya? tentu saja dengan membuat tema yang paling akrab dengan mereka, sesuatu yang dapat menyentuh hati mereka, sesuatu yang dapat menjadi teman mereka, sesuatu yang merupakan “resonating benefit”, sesuatu yang merupakan customer value.

So?

Kita nanti akan melihat tema-tema hasil terjemahan dari berbagai negara tentang “Open Happiness”. Lalu, apa kaitannya dengan Branding sebuah negara? apa kaitannya dengan “Truly Asia”?

Berandai-andai lagi yuk,

Bayangkan kalau kebudayaan kita diceritakan oleh Coca-cola? atau karena segment Coca-cola itu anak muda, bayangkan bila anak muda negara kita ditayangkan sebagai Anak muda yang cinta negara, cinta kebudayaan daerah, cinta Asia. Apakah orang akan lebih percaya  cerita Coca-cola, atau  lebih percaya promosi  Dirjen Pariwisata, yang bercerita tentang anak muda kita? hayo….???

Part III

Mari kita lihat video hasil terjemahan dari beberapa negara yuk..

Coca-cola Malaysia

Terjemahan dari Open happiness? sebagai keceriaan anak muda yang berbagi, optimis. Kemudian visualisasi: Kita melihat visualiasi perkotaan, suasana kafe pinggir jalan, para pekerja muda, kemudian bagaimana Coca-cola merubah keadaan lesu dari seseorang, menjadi segar kembali. Apakah tema perkotaan, kesegaran melambangkan Asia?

Ciri Asia: -

Ternyata tema Asia bukanlah sebuah tema yang resonating bagi anak muda Malaysia.

Coca-cola Indonesia

Hal yang saya tangkap dari video ini, happiness diterjemahkan sebagai saling berbagi keceriaan, dan mengenai memulai semangat baru. kemudian visualisasinya menceritakan Happiness melalui kecerian di taman ria, parade, pelangi menampilkan hal-hal yang indah. Apakah tema taman ria, pelangi, dan parade melambangkan Asia?

Ciri Asia: -

Kembali, tema Asia bukanlah sebuah tema yang resonating bagi anak muda Indonesia

Coca-cola Singapore

Hm…., secara lirik sih sepertinya tidak ada yang berubah dengan lirik aslinya. Mungkin banget, Anak muda Singapore sudah mengerti bahasa Inggris semua, sehingga tidak perlu diterjemahkan lebih lanjut, hanya disesuaikan beat nya saja. Mengenai visualisasi, kita melihat penterjemahan Open Happiness sebagai keceriaan di mall, nonton konser, keceriaan bersenda gurau yang ditampilkan kedua artis, dan keceriaan para penonton yang berjoget-joget bersama. Apakah tema konser, mall dan senda gurau melambangkan Asia?

Ciri Asia: -

Tema Asia bukanlah sebuah tema yang resonating bagi anak muda Singapore

Coca-cola China

Kita melihat lagi tema konser sebagai suatu tema yang mendominasi pada video ini. Setelah lelah dengan berbagai rutinitas, sebuah lagu akan membuat hidup lebih bersemangat dan ceria. Apakah sebuah konser melambangkan Asia?

Ciri Asia: -

Tema Asia bukanlah sebuah tema yang resonating bagi anak muda China

Coca-cola Korea

Tidak banyak yang dapat saya ambil, tema disko tahun 80-an sangat mendominasi. Apakah disko melambangkan Asia?

Ciri Asia: -

Tema Asia bukanlah sebuah tema yang resonating bagi anak muda China

Coca-cola Jepang

Tema yang diambil adalah berjalan-jalan di kota, dengan berbagai binatang seperti anjing, merpati dan penguin yang bernyanyi tentang Happiness. Masih belum ada tema Asia yang kita temukan, hei……, tunggu dulu, latar belakang musik pada intro nya sepertinya saya kenal, apa yah namanya? banjo? yah itu lah, sejenis alat musik tradisional Jepang yang sering kita dengar ketika nonton film samurai ternyata digunakan dalam video ini 

Ciri Asia: Alat musik tradisional yang khas jepang

Tema musik Asia merupakan bagian yang resonating bagi anak muda Jepang.

Coca-cola Thailand

Lalalalala……….

Dari hasil browsing-browsing saya, ini adalah video klip kedua, video pertama menurut saya kurang menggigit, dalam artian tidak nyambung antara gambar dan suara. Pada video kedua ini secara garis besar tidak terdapat perubahan pada unsur suara, yang berubah hanya visualisasinya yang menjadi sangat nyambung dengan musiknya. Pada video ini terlihat jelas bagaimana anak muda Thailand sangat mencintai kebudayaan mereka.

Ciri Asia: Alat musik tradisional, berbagai tari tradisional, Thai boxing

Tema Asia merupakan hal yang resonating bagi anak muda Thailand.

PART IV

Lalu, apa kaitannya antara anak muda dengan Branding sebuah negara:

Pertama, saya rasa orang akan lebih percaya video Coca-cola ini dibandingkan promosi yang dilakukan oleh pemerintah secara resmi.

Kedua, anak muda adalah cerminan sebuah bangsa, melalui anak muda kita dapat melihat kepribadian dari bangsa tersebut.

Terima Kasih

Brand Awareness Overview

February 23, 2010 4 comments

Seberapa sering anda mendengar kata Awareness? Brand Awareness? Apa sih pentingnya Awareness ini. Letaknya dimana sih? gunanya apa sih? Atau bagi orang-orang tertentu yang sudah pernah mendengar istilah ini terkadang bertanya, Awareness? buat apa?

Dalam Bagan versi Aaker kita bisa melihat posisi dari Brand awareness tersebut.

Dari Bagan Brand Equity tersebut, terlihat bahwa Brand Awareness adalah salah satu faktor pembentuk dari Brand Equity.

Pengertian dari Brand Awareness itu sendiri adalah  kemampuan dari seseorang yang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali (recognize) atau menyebutkan kembali (recall) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategori produk( Aaker, 1991: 61).

Piramida Awareness (Aaker, 1991:62)

Brand awareness ini terbagai dalam 4 tingkatan, yaitu :

  1. Unaware of Brand, Pada tingkatan ini seseorang tidak mengetahui suatu Brand tertentu. “Ha? merek apaan tuh? oOo merek jam tangan toh kirain merek kacang goreng………”
  2. Brand Recognition, Pada tingkatan ini, merupakan tingkatan paling rendah dari awareness seseorang. Ibu tau pepsodent ngga? “Tau mas, merek pasta gigi kan”. Ibu tau merek Marketing 101?; Ya tau, blog yang membahas tentang marketing, hehehe…”. Implikasi dari brand Recognition ini menjadi penting ketika seseorang berada pada suatu point of purchase, seperti seseorang ketika berada di supermarket.
  3. Brand Recall, tahapan ini lebih tinggi dibandingkan pada tahap recognition, pada tahap ini seseorang diminta untuk menyebutkan nama-nama produk dalam suatu kategori produk tertentu tanpa melalui bantuan seperti pada tahap recognition. “Coba sebutkan merek rokok….!!!; Sampoerna, Djarum, Gudang Garam, Ardath, Kansas, Marlboro
  4. Top of Mind, adalah nama suatu merek atau Brand yang disebutkan pertama kali oleh seseorang, berada pada posisi yang istimewa. Dalam pengertian sederhana, merek tersebut menjadi pimpinan dalam benak konsumen tersebut dibandingkan nama merek-merek lain (Aaker, 1991:62). “seperti contoh pada point 3, dan Top of Mind nya adalah Sampoerna” 

Kegunaan dari Awareness ini dapat dilihat dari 4 nilai (Value) yang diciptakan melalui Brand Awareness ini, yaitu :

  1. Anchor to which other associations can be attached; Brand Awareness akan menyebabkan timbulnya asosiasi seseorang,seperti asosiasi yang timbul pada McDonald adalah Ronald McDonald, anak-anak, fun, Big Mac, bersih dan efisien. Asosiasi yang luas tersebut kemudian dapat diperkuat dengan menggambungkan satu asosiasi dengan yang lain seperti Ronald McDonald dengan anak-anak. Dengan memperkuat asosiasi tersebut nama McDonald akan semakin kuat pada memori seseorang.
  2. Familiarity /Liking; secara umum seseorang lebih menyukai sesuatu yang lebih familiar. Salah satu penjelasan akan hal ini adalah orang lebih membeli produk-produk yang terkategorikan Low-involvement product seperti kertas tisu, permen karena mereka sudah familiar dengan merek tersebut.
  3. Substance / commitment; semakin tinggi awareness atas suatu nama produk menunjukkan semakin tinggi commitment dari brand tersebut. Alasan yang dapat timbul mengapa seseorang dapat mengenali sebuah brand adalah :
    1. Perusahaan telah melakukan promosi secara terus-menerus;
    2. Perusahaan telah bergerak untuk waktu pada bidang tersebut;
    3. Perusahaan telah melakukan distribusi secara luas;
    4. Brand tersebut adalah Brand yang sukses, orang lain juga menggunakan Brand tersebut.
  4. Brand to consider; Pada proses pembelian, langkah pertama yang dilakukan adalah pemilhan alternatif. Pada proses ini, ketersedian informasi menjadi sumber dari pemilihan tersebut. Proses Recall menjadi penting, karena biasanya tidak banyak nama brand yang muncul pada proses ini. Brand pertama yang muncul dalam benak seseorang, akan mendapatkan keuntungan yang lebih, dibandingkan dengan Brand yang memiliki tingkat Recall yang rendah.

HOW TO ACHIEVE AWARENESS

Meraih awareness, baik tahap recognition dan recall melibatkan 2 tugas yaitu mendapatkan identitas nama Brand dan menghubungkannya dengan kategori produk tersebut (Aaker, 1991:72). Pada Brand yang tergolong baru, dua tugas tersebut perlu dilakukan oleh perusahaan, walaupun dalam beberapa kasus nama dari Brand tersebut telah menjelaskan kategori produknya. Panduan yang dapat digunakan dalam meraih dan mempertahankan awareness tersebut adalah :

  • Be different, memorable; Banyaknya pesan-pesan komunikasi pemasaran yang diterima oleh konsumen dalam kesehariannya, menyebabkan otak konsumen menjadi clutter. Untuk membuat konsumen tetap aware terhadap pesan yang disampaikan oleh perusahaan,  penyampaian pesan yang dilakukan haruslah berbeda sehingga diingat oleh target audience, seperti pendekatan (approach) atau tampilan (appeal) yang digunakan. Hal yang tetap perlu diingat kemudian adalah, walaupun komunikasi yang dilakukan berbeda, harus tetap mampu menciptakan hubungan antara brand dengan kategori produknya. Sebagai contoh: siapa yang bakal ingat kalau kita beriklan sebuah mobil sedan sedang berjalan di gunung

  • Involve a slogan or jingle; penggunaan slogan atau jingle dapat membantu karena dengan menggunakan slogan tersebut dapat memvisualisasikan karakteristik dari produk perusahaan tersebut.

  • Symbol exposure; penggunaan simbol ini mempermudah konsumen dalam mengenali suatu Brand, melalui tampilan visual symbol tersebut dibandingkan mengenali suatu kata atau frase yang digunakan oleh Brand tersebut.

  • Publicity; keuntungan dari publicity ini tidak hanya lebih murah dibandingkan menggunakan media iklan, namun faktor efektifitas dari media  publicity ini juga cukup tinggi. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa orang lebih tertarik untuk mengetahui suatu berita baru daripada membaca iklan, contoh: kegemaran Obama menggunakan Blackberry yang disebutkan diberbagai media.

  • Event sponsorship; Dalam suatu proses sponshorship yang berkesinambungan, akan mempererat asosiasi suatu event terhadap suatu Brand. Contoh dari asosiasi tersebut adalah bagaimana Rolex diasosiasikan dengan kejuaraan tenis Wimbeldon.

  • Consider brand extensions; menggunakan nama brand pada produk lain adalah salah satu cara untuk meningkatkan brand recall. Beberapa perusahaan yang mengadopsi penggunaan brand extensions ini seperti coca-cola, Honda, Yamaha dan Sony.

  • Using cues; Menggunakan isyarat/ panduan/petunjuk yang dapat membantu mengarahkan ke kategori produk atau ke Brand itu sendiri. sebagai contoh: Roger Federer dan Wilson

  • Recall requires repetition; membangun awareness tidak serta merta terjadi dalam 1 hari, atau 1 kali beriklan, semua membutuhkan pengulangan dan kontinuitas.

  • The recall bonus; Pada sebuah penelitian ditemukan apabila sebuah Brand telah mencapai tahap Recall yang kuat, maka merek lain yang ia ingat akan menjadi semakin sedikit pula (Aaker, 1991, 72-76)

Pada akhirnya, walaupun awareness merupakan aset penting dari Brand, awareness sendiri memiliki keterbatasan, yaitu tidak dapat secara langsung mendorong sales(Aaker, 1991:69).

Proses komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan harus tetap dilakukan sampai pada proses pembelian sebenarnya (actual buying behaviour) melalui imc tools dan sesuai dengan kemampuan perusahaan tersebut.

Sumber:

Aaker, David A. 1991. Managing Brand Equity. New York, NY: The Free Press

Categories: Brand Tags: ,

Political Marketing? Politics on Marketing or Marketing on Politics?

February 12, 2010 1 comment

The first time I knew about this term, I thought the meaning was the first one….. Funny isn’t it?! hehehe….. (But do you know that it wasn’t just me). Anyway let me share my view about this topics, I’ll try to write it in Indonesian so you can read it more easily (lebih mudah buat saya juga ^_^)…….

Marketing politik merupakan sebuah kajian, dimana terminologi marketing digunakan untuk memotret kegiatan komunikasi politik yang dilakukan oleh suatu organisasi politik atau individu. Gampangnya marketing, dalam konteks politik.

Pertanyaannya, “apakah bisa politik di marketingkan? Apakah etis? Kok kesannya kayak mbohongin orang ya?” Jawaban untuk pertanyaan itu adalah, bisa! Etis kok! Ga juga! ^_^ (Dijawab satu-satu ya).

Untuk menjawabnya kita liat dulu deh definisi marketing menurut AMA (American Marketing Association)

“Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for customers, clients, partners, and society at large”.

The question is, what to exchange?

Dalam politik memang ga ada pertukaran secara langsung, yang ada hanyalah kamu mempertaruhkan harapan dan mereka membutuhkan legitimasi darimu untuk terpilih, ga ada duitnya! Kecuali memang di Indonesia, Money Politic masih marak. This is the Price factor on Marketing Politics. Pilihlah dengan bijak atau anda akan menyesali pilihan anda, worst case menggerutu setidaknya untuk lima tahun ke depan (tentunya kalo mereka ga ditangkap lebih dahulu ataupun terkena impeachment).

Karena itu mereka berpromosi, koar-koar, minta dipilih, buat kontrak politik. Dan kalo melanggar ya, sanksinya juga sanksi politik dong, jangan dipilih lagi. Logis kan! Justru di dalam marketing politik kita mencoba untuk membuat semuanya logis.

Terus gimana dong dengan kelakuan partai-partai politik yang jor-joran dengan kampanye media, pencitraan, dll? Yah itulah kurangnya Indonesia, di Indonesia Political Marketing masih dipahami sebagai Political Advertising!

Pokoknya beriklan, pasang spanduk, koar2, bikin image sebagus mungkin, trus berharap semua orang bakal milih kamu! Ya nggak bisalah!! Liat deh poster2 di bawah!!

Iklan 1:


Iklan 2:

Iklan 3:

Iklan 4:

Iklan 5:


Iklan 6:


Menurut anda, berapa banyak dari mereka yang terpilih dalam pileg ataupun pilkada?  Saya sangat yakin tidak banyak dari mereka. Jangan jadikan alasan karena competitor yang memang banyak ya?! Tapi kebanyakan dari mereka juga tidak mengetahui elemen marketing yang dibutuhkan untuk memenangkan hati rakyatnya.

Marketing Politik merupakan sebuah kajian, dimana perlu adanya pencarian needs dari partai ataupun individu kepada anggota konstituennya. Need itu nantinya akan dikaji dan di deliver dalam bentuk produk yang berupa program. Nah, program ini perlu untuk dikomunikasikan dengan promosi.

Anda mungkin akan bertanya-tanya, “penjelasan orang ini logis tetapi kok penerapan Political Marketing terkesan tidak praktis ya dalam kontek perpolitikan di Indonesia? Kalo memang menerapkan Political Marketing yang sesungguhnya apa bisa sebuah partai menang?! Nah untuk menjawab pertanyaan itu kita bakal masuk lebih dalam lagi ke dalam teori & konsep Political Marketing, tetapi sebelum kita bahas lebih dalam pada tulisan saya yang berikutnya, saya menyisakan satu pertanyaan lagi pada anda untuk dijawab.

Jika di dalam pembahasan ini saya mengemukakan 4P Element of Marketing Mix (Price, Place & Promotion), bagaimanakah kita menjelaskan elemen Place dalam konteks Marketing Politik? Saya tunggu jawaban anda!! ^_^ C U next week!!!

(Penulis tertarik pada bidang Political marketing, dan telah menyelesaikan  thesis  yang mengambil tema  di bidang ini. Penulis kini bekerja di sebuah perusahaan konsultan riset dan training marketing  sebagai analyst)

Sumber gambar:

http://www.b0chun.com/blog

http://iklanpolitik.files.wordpress.com

http://itempoeti.files.wordpress.com

http://yanganeh.com

edited by John Gudil (Adding author profile)

Transformasi bisnis ala Telkom

February 2, 2010 1 comment

Logo telkom Familiar dengan logo baru ini? mungkin ada yang sudah terbiasa,  mungkin juga ada yang baru pertama kali melihat. Yup, Telkom telah merubah logo mereka menjadi seperti ini, bukan lagi seperti bola  biru digaris-garis yang biasa kita lihat sebelumnya.

Lalu, apa sih alasan yang membuat Telkom melakukan perubahan pada logo nya tersebut. Apa karena orang sudah bosan melihat logo tersebut?,  Apa karena  direksi butuh proyek baru biar kelihatan eksis?. Hmm…., jawaban yang benar adalah karena Telkom perlu untuk mereformasi bisnis mereka, dan perubahan logo tersebut merupakan suatu bagian yang terintegrasi dari langkah perubahan bisnis mereka.

Masih ingat iklan ini?

Dahulu kita ingat Telkom erat kaitannya dengan telepon umum koin, telepon umum kartu, dan telepon rumah. Sekarang? apa masih ada yang mau menggunakan alat-alat tersebut?. Jawabannya mungkin masih ada, terutama di daerah-daerah pedesaaan, dan itu pun menurut saya hanya sebagian saja. Telkom tidak akan bertahan apabila tetap mempertahankan bisnis mereka pada bidang-bidang tersebut.

Kemudian Telkom pun melakukan berbagai ekspansi seperti lahirnya TelkomFlexi, Speedy, dan line bisnis lainnya.

Kita mengenal adanya istilah disruptive technology, ilustrasi gampangnya adalah hadirnya teknologi terbaru yang membuat teknologi lama menjadi ditinggalkan dan tidak digunakan lagi, seperti bagaimana hadirnya telepon selular menghancurkan industri radio panggil (pager), atau hadirnya kamera digital yang menghancurkan bisnis kamera cetak.

Kembali ke perubahan pada Telkom, ternyata Telkom bukan pertama kali melakukan transformasi tersebut. Tercatat beberapa kali Telkom melakukan transformasi, yaitu:

  • Transformasi fase I dilakukan periode 1988-1997 dengan melakukan perubahan fundamental yakni mengubah budaya perusahaan.
  • Transformasi fase II dilakukan mulai 2002-2005. Delapan tahun lalu transformasi diarahkan dari perusahaan berbasis aset menjadi berfokus pada pelanggan. Setelah itu diubah dari perusahaan telekomunikasi menjadi infoCom.
  • Transformasi fase III, 23 Oktober 2009 – sekarang, perusahaan penyelenggara bisnis T.I.M.E (Telecommunication, Information, Media and Edutainment)

Transformasi yang terakhir inilah yang sedang dilakukan oleh Telkom. Apa saja yang dilakukan oleh Telkom pada transformasi ini?

Ternyata yang dilakukan oleh Telkom, berdasar pada situs resmi, adalah transformasi  yang disebut dengan NEW TELKOM Indonesia, yaitu transformasi dalam bisnis, transformasi infrastruktur, transformasi sistem dan model operasi dan transformasi sumber daya manusia. OK…., what’s that…???

Lebih mudah bagi kita untuk melihat berdasar fakta-fakta yang terjadi, yaitu:

  • Perubahan Corporate identity dari perusahaan InfoComm menjadi T.I.M.E (Telecommunication, Information, Media and Edutainment) Company, disertai dengan perubahan pada logo perusahaan.
  • Perubahan budaya (culture) baru yakni commitment, spirit, promise, product and service quality serta service culture
  • Telkom memiliki tagline baru, “The World in Your Hand“.
  • positioning baru “Life Confident”.
  • 5 value baru yaitu Expertise, Empowering, Assured, Progressive & Heart

THE REALLY QUESTION IS, ADA APA DENGAN TELKOM?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari pertama kita lihat bagan berikut:

Ansoff Matrix

Ok, bagan telah selesai, mari kita buat ceritanya, hehehe….., bagan tersebut menceritakan bagaimana suatu produk harus berkembang atau lebih dikenal dengan product-market growth matrix.

Kemudian, mari kita cocokkan dengan apa yang terjadi pada Telkom. Pada bagian product terdapat dua bagian, apakah akan Telkom tetap menjual produk lamanya, atau membuat suatu produk baru. Pada bagian produk ini, sebelumnya Telkom merupakan perusahaan yang fokus pada bidang komunikasi dan informasi. Sesuai dengan Corporate identity mereka yaitu perusahaan InfoComm. Hal yang terjadi adalah terbukanya peluang baru dibidang multimedia dan edutainment. peluang inilah yang kemudian diambil oleh Telkom dan mengambil langkah untuk bergerak ke New Product.

Kemudian pada bagian Market, kembali terdapat pilihan apakah akan memasuki pasar yang lama atau masuk ke pasar yang baru. Apabila kita lihat terdapat penambahan 2 (dua) bisnis baru pada multimedia dan edutainment tersebut terlihat bahwa Telkom mengambil langkah untuk memasuki pasar (market) baru yang jelas berbeda dengan pasar Telkom sebelumnya, yaitu: informasi dan komunikasi.

Sesuai dengan bagan tersebut kita lihat bahwa ternyata Telkom melakukan proses diversifikasi. Lalu? apa kaitannya dengan segala macam perubahan yang terjadi pada Telkom tersebut? sabar om….., kita lanjut ya…., tapi tonton dulu iklan Telkom yang terbaru yak

Mari kita lihat kembali suatu bagan mengenai bagaimana strategi sebuah brand dalam berkembang, bagan ini namanya, Brand Growth strategies, saya ambil dari slide perkuliahan MMUI, mengenai pencipta-nya belum ketemu, maybe Aaker, Keller or someone else, ntar kucari lagi deh, yang jelas bagan ini merupakan salah satu jurus para marketer untuk mengembangkan Brand.

Mengaitkan pada studi Telkom ini, Brand Telkom dilihat sebagai suatu corporate brand yang meluncurkan produk baru pada market yang belum pernah ia masuki sebelumnya, yaitu multimedia dan edutainment.

Dari studi Telkom tersebut, dapat kita lihat bahwa yang harus dilakukan pada Brand yang memasuki bagian new product, new market adalah melakukan Brand development. Pada penjelasan dari tahapan ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah melakukan kembali proses segment, target  dan position (STP), new marketing plan, dan new IMC program. Hal inilah yang kemudian melahirkan proses transformasi Telkom tersebut, seperti positioning baru, perubahan logo,  tagline, dan  perubahan corporate identity.

Sumber:

http://andisboediman.blogspot.com/2009/10/geliat-telkom-gerakkan-dunia-media.html

http://doniismanto.wordpress.com/2009/10/19/201009-transformasi-telkom-pertaruhan-incumbent-di-masa-depan/

http://k-4-s.info/2009/10/identitas-baru-tandai-transformasi-bisnis-telkom/

http://www.telkom.co.id/

http://surabayawebs.com/index.php/2009/10/17/telkom-luncurkan-logo-baru-masuki-transformasi-bisnis-fundamental/

http://en.wikipedia.org/wiki/Product-Market_Growth_Matrix

Strategic Brand Management-Introducing and Naming New Products
and Brand Expansion, MMUI 2008

Hirarki Maslow dan implikasi marketing

January 27, 2010 1 comment

“Makan….., ga makan…….., asal kumpul…..”

yakin neh………???

Seorang psikolog terkenal dahulu kala memperkenalkan suatu pendekatan  yang berkaitan dengan motivasi. Teori ini pada dasarnya berusaha memahami tentang pertumbuhan secara personal (personal growth) dan pencapaian dari “peak experience”.

Pada gambar terlihat bahwa terdapat jenjang-jenjang kebutuhan dari seorang manusia. jenjang-jenjang tersebut dimulai dari bawah, dimulai dari kebutuhan dasar manusia seperti air, makan, tidur sampai pada jenjang   berusaha menambah pengetahuan  yang pada gambar digambarkan sebagai aktualisasi diri.

Inti dari teori ini adalah, seseorang harus memenuhi kebutuhan dasarnya dulu baru memikirkan kebutuhan yang lainnya, contoh: seseorang yang kelaparan akan memikirkan tentang makanan dahulu sebelum memikirkan hal lainnya.

Suatu hari, dengan cerdasnya teori ini juga digunakan dalam menjual produk apa yang cocok untuk suatu masyarakat tertentu. Hal yang menarik adalah, kemudian teori ini juga dapat digunakan oleh para marketer untuk memahami motivasi dari konsumen. Komunikasi yang seperti apakah yang cocok untuk suatu produk?

Confuse enough? let’s start with an example then

Untuk tingkatan terbawah kita lihat adalah Physiological, such as: air ,water, food, produk yang ditawarkan tentunya adalah mudah sekali: makanan, minuman, obat, blablabla…….., tapi bagaimana mengkomunikasikannya? sebagai contoh adalah bagaimana quaker oat memposisikan produk mereka sebagai sesuatu yang mendasar

Jenjang kedua adalah safety, produk yang terkait tentu saja alarm, asuransi, investasi atau produk lain. Tapi bagaimana mengkomunikasikannya? sebagai contoh adalah bagaimana Allianz menceritakan tentang safety tersebut

Jenjang selanjutnya adalah belongingness, produk yang cocok adalah pakaian, perawatan tubuh, atau minuman ringan. Contoh dari produk yang menggunakan komunikasi cinta, pertemanan dan pengakuan oleh orang lain ini adalah Pepsi (Pepsi generation)

Lanjut gan…., selanjutnya kita melihat di tahap ego needs atau pada gambar diatas ditulis sebagai self esteem”. produk-produk yang cocok untuk tingkatan ini adalah kendaraan, furnitur, kartu kredit, atau liquiors, contoh dari komunikasinya adalah tentang prestis, status, dan pencapaian sebagaimana terlihat pada “What the rich give the wealthy”



Pada tingkat tertinggi adalah tentang aktualiasi diri. Produk yang cocok adalah seperti produk-produk yang terkait dengan hobi, traveling, atau tentang pendidikan. contoh dari komunikasi yang menggunakan tema ini adalah “delighting you always” versi canon

Tentunya kritik terhadap teori ini tidak dapat dipungkiri, bahwa tingkatan-tingkatan tersebut bukanlah suatu hal yang rigid. Pada suatu negara terutama pada negara-negara di Asia ditemukan bahwa tingkatan tertinggi ternyata bukanlah aktualisasi diri, melainkan kebahagian dalam bermasyarakat. Hal ini berarti membutuhkan kejelian dari seorang marketer untuk melihat kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan bagaimana kreatifitas dari seorang marketer untuk mengkomunikasikan produknya tersebut.

Sumber:

Solomon, Michael R. (2007), Consumer Behavior (7th. ed.), Pearson Prentice Hall.

Duncan, Tom (2005), Advertising & IMC (2nd. ed.), McGraw-Hill

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.